Kamis, 23 Juli 2009

ML DENGAN POLISI

Kisah ini adalah kisahku. Terlepas dai anda para pembaca, percaya atau tidak.

Di usiaku yang 38 tahun saat ini, wajar saja orang menaruh kasihan terhadapku. Gak ada pekerjaan, karna sudah setahun aku tidak bekerja setelah di PHK dari satu perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Disamping itu diriku juga belum menikah. Masyarakat kita, yang selalu “perduli” dengan orang lain, barangkali mereka pusing kenapa aku tidak menikah. Setidaknya saudar2ku dan orang tuaku terkena imbasnya. Itulah alasanku mengasingkan diri menjadi petani di suatu daerah di pinggiran kota.

Setelah PHK tahun kemarin, aku membeli lahan seluas 1 hektare. Itulah yang kuolah dengan berbagai tanaman dan kini aku sudah menikmati hasilnya. Uang pesangonku sendiri, tergolong lumayan besar. Karena disamping membeli lahan, aku masih mampu mendirikan rumah buatku di lahan tersebut dan juga sebagai modal untuk mengolah lahanku.

Rumah yang kudirikan cukup bagus untuk daerah pertanian. Berada di pinggir jalan besar antar kota. Namun sangat terpencil untuk ukuran populasi. Memang dari luar orang akan mengira rumah tersebut hanya sekedar rumah seorang petani. Karena jaraknya dengan rumah berikutnya ada lebih kurang 500 m. Perawajahannya dari luar kuset sedemikian rupa agar terlihat sederhana. Untuk penerangan listrik lengkap karena berada di laluan tiang listrik ke desa lain.Namun setelah masuk ke dalam hhhhhmmm aku tak tahu apa yang akan diucapkannya. Ada ruang keluarga lengkap dengan perapian, ada kamar mandi. Karena aku tinggal sendiri aku menempatkan tempat tidurku dekat perapian. Tempat tidurku adalah springbed queen size yang baru bisa kubeli 5 bulan lalu, setelah menjual hasil tanamanku terkumpul. Aku sangat senang.

Kehidupan sex, hmm selama itu aku hanya mengandalkan tanganku. Walau tergolong primitif, yah aku sangat menyenangi genggaman tangankuapalagi saat-saat mau crot. Sangat nikmat sekali. Pancarannya akan kulap kemudian. Aku sangat menyukai saat tembakan mengambang diudara dan mendarat di lantai.

Namun perubahan terjadi, aku tidak mutlak mengandalkan tanganku lagi saat ini, setelah aku berjumpa dengan seorang polisi yang berusia 41 tahun. Segalanya berawal dari 3 bulan lalu.

Malam itu…….

Saat ini jam 19.30, aku melihat jam di dinding. Hujan mengguyur bumi sejak jam 17 tadi. Setelah makan malam, aku menghabiskan waktu dengan membaca buku di atas tempat tidurku. Perapian masih menyala. Sehingga aku tidak merasa kedinginan walaupun hujan semakin deras padahal aku hanya bercelana pendek dan berkaus oblong.

Di saat aku menikmati bacaanku, tiba2 aku dikejutkan oleh ketokan di pintu depan. Aku tidak pernah bertamu di jam seperti ini. Ini tidak biasa. Dengan perasaan dag dig dug aku mengambil sebuah tongkat kayu yang ujungnya agak membesar layaknya pemukul baseball dan mendekati pintu. Ketukannya agak menguat tetapi masih tergolong bersahabat. Aku membuka sedikit, pemukul baseballku di tangan kiri. “Siapa?” aku bertanya. Tetapi mataku sudah menangkap seorang polisi yang celananya basah dari paha sambai bawah. “Selamat malam pak! Maaf saya kehujanan kalo boleh saya berlindung di teras rumah bapak sampai hujan reda” katanya sambil giginya gemeratakan menahan dingin. Aku membuka pintu dan aku keluar sambil memegang pemukul baseballku. Kulihat sepeda motornya sudah di teras. Lampu terasku sendiri hanya lampu kecil 5 watt. “Boleh saya tahu nama anda?” aku bertanya. “Saya Johan!” katanya sambil merogoh kantong celana bagian belakang. Dan mengeluarkan dompetnya dan menglurkan sebuah kartu pengenal kepadaku. “ Polisi yang sangat bersahabat” pikirku dalam hati. Jarang polisi seperti ini. Aku melihat wajah yang kedinginan. Kulihat air mengalir dari kakinya. “Silakan masuk. Masukkan saja sepeda motornya pak” kataku sambul melangkah masuk karena akupun sudah mulai merasa dinginnya udara luar. Aku mengunci pintu setelah dia memasukkan motornya. “Namaku Alex. Saya tinggal sendirian di sini. Jadi, sorry tentang pemukul ini” sambil menunjukkan pemukul yang ditangan kiriku. “Oh, tidak apa-apa, itu biasa kok”, katanya sambil memeras kaki celananya. Mataku melihat selangkangan yang padat. Paha yang berisi. Pikiranku mulai kotor. “Kalo masih basah buka aja, nanti malah jadi masuk angin lagi! Kita kedalam aja biar dinginnya hilang” aku melangkah masuk ke ruangan perapian. Dia mengikutiku. Di langsung lari mendekat perapian. “ohh terima kasih enak banget ada perapian” katanya sambil berdiri mulai membuka kancing bajunya. “Oh gak apa-apa” kataku sambil diam-diam mataku tetap melihat tonjolan celananya. “Bapak mau kopi atau barangkali belum makan?” aku menawarkan sebagai tuan rumah yang baik. “Kopi ajalah, kayaknya nikmat banget” Aku melangkah menuju sudut ruangan untuk membuat kopi. Setelah selesai aku membawa 2 gelas kopi. Dan dibahuku tersampir sarung untuk dia kenakan nantinya. Aku melihat dia masih mamakai celananya, padahal aku ingin sekali melihat bongkahan selangkangannya dalam bungkusan ceana dalam. Akan sangat menggairahkan walau hanya sebentar. Sekalipun dia memakai kaus oblong kas polisinya, namun itu tak cukup menutup tonjolannnya nantinya. “Loh kok gak dibuka sih celananya, kan basah bener itu. Ini sarung bisa dipake” aku meletakkan satu gelas di kursi dan sarung itu kuletakkan di sandaran kursinya. Gelasku kucoba kuhirup. Sambil tersenyum-senyum ia melorotkan celananya. Dan akupun melihat tonjolan itu. Uih begitu mantap dan menggoda. Kurasakan selangkanganku mulai padat. Tetapi dengan cepat dia memakai sarung tadi.

Setelah itu kami ngobrol panjang lebar, yang tak tentu tunjrungannya. Dari perihal kerja sampai urusannya sehingga dia terguyur hujan. Tak luput juga mengapa aku hidup menyendiri dan dianya seorang suami yang jauh dari istri.

Tak terasa waktu menunjukkan jam 22.30, aku mulai ngantuk tetapi dia masih nampak segar. Hujan belum juga berhenti. Di tengah obrolan tadi dia masih ingin melanjutkan perjalanan seandainya hujan berhenti, walau kutawarkan juga untuk bermalam.

“Aku dah ngantuk nih, aku tidur duluan yah. Kalo nanti hujannya dah reda masih mau jalan bangunkan aja aku. Kalo mau makan ada tuh, jangan sungkan-sungkan anggap rumah sendiri” kataku sambil meluruskan badan. “Oke tenang aja. Istirahat aja duluan” dia masih meringkuk dekat perapian. Akupun melebarkan selimutku. Tak ada keraguanku sedikitpun kalo dia akan berbuat seperti seorang penjahat nantinya bahkan membunuh. Berawal dari cara dia sebagai seorang yang bersahabat.

Akupun tertidur lelap. Sampai tak jadi berangkat dan naik tidur sisampingku, aku tidak tahu, hingga jam 5 pagi aku tebangun karena sesak pipis.

Bersambung………..

8 komentar:

  1. mana lanjutannya?

    BalasHapus
  2. Seperti g kualami mampir ya di www.gayomku.blogspot.com

    BalasHapus
  3. keren...
    btw, nemu blog lapak dvd keren… aku dah beli, keren2 filmnya..
    http://www.filmgadogado.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. Mampir dong ke berbagipemandangan.blogspot.com

    BalasHapus
  5. Hallo im JEFFREY im 28 years old
    im handsome Masseur in Jakarta
    im here about giving you a real massage
    from head to toe
    i was using an olive oil for doing massage
    include a sensual body massage
    and if u wanna be relax after massage i will give you my best service
    cause im a good masseur
    So lets call me sir if u interest
    081284007873 RP 750.000

    BalasHapus
  6. Pa polisi invite ya 7DEEF9DA

    BalasHapus
  7. lanjutkan dengan kisah adanya karyawan mengelola kebun yg ternyata juga gay......anak muda, pengangguran, mau diajak mengelola kebun, tinggal di bedeng samping rumah.....selanjutnya....silahkan dibuat ceritanya...

    BalasHapus